Hot News

“Leg Wave” Valentino Rossi bikin Lamban dibanding “Confident Style” Jorge Lorenzo..???

jorge Lorenzo RiderTua.Com— Menarik jika kita cermati seri terakhir kemarin di Barcelona, dimana di lap akhir kita lihat Valentino Rossi berusaha mengejar Lorenzo dengan hanya menyisakan gap beberapa detik saja (Finish 0,9 detik) jika kita cermati memang motor kedua rider ini identik, walau (entah) set-up mereka beda (infonya Rossi banyak ubahan di hari minggu) Yang terlihat nyata bedanya adalah gaya balap mereka tentunya...paling mudah dilihat adalah saat melibas tikungan dengan kecepatan tinggi... Lorenzo terlihat yakin bin konfiden dengan "doubtless kneedown" nya sebagai 'radar' kemiringan motor atau keseimbangan saat melibas tikungan saat deselerasi dari kecepatan tinggi... alhasil dipadu dengan kelenturan M1 mampu memangkas waktu saat cornering ... apakah ini sebuah nilai lebih dibanding rekan setimnya.....?

Valentino rossi-leg-wave ceetah

Sekarang kita cermati Gaya klasik nan fenomenal seorang Valentino Rossi banyak versi yang mengatakan style ini sebagai penyeimbang, ada juga yang bilang juga sebagai ‘radar’ keseimbangan  dan kalau di bandingkan dengan Lorenzo dititik pengereman yang sama saat masuk tikungan apakah kedua gaya ini memiliki nilai plus minusnya…?
Atau bahkan tidak ada pengaruhnya alias podo wae…. dengan kondisi kedua motor adalah sama-sama YZR-M1……!!

  1. Saat gaya leg wave ini menjulurkan kakinya dia pastinya akan menarik kembali ke footpeg/footstep jika berada ditikungan bahkan saat keluar tikungan pastinya kaki sudah harus “nangkring” pada pijakan kaki… saat kaki begitu dekat dengan aspal dia pastinya akan menarik sedikit ke atas agar tidak gasruk tanah… dan ketiga gerakan ini butuh kontrol lebih demi menjaga kesimbangan dan kembali berpijak ke footstep secara aman dan kemudian ngacir saat keluar tikungan…..
    intinya harus fokus pada tiga titik : Gas-kaki-footstep
  2. Saat gaya Knee Down Lorenzo (dengan motor sama) maka tidak akan repot untuk atur kaki dimana alat ukur “rebah” dan balans kemiringan motor ada di lutut..jelas sekali di Catalunya kemarin lutut Jo turun dan terbuka lebar, bersamaan dengan semakin rebahnya motor lutut ikut ditarik merapat ke body motor, secara awam dilihat gaya ini lebih praktis dan perlu konsentrasi tidak lebih banyak dibanding Leg Wave ….
    Hanya fokus pada : Gas-Lutut

Rossi Lorenzo catalunya 2009

Kesimpulannya ( anda boleh menyimpulkan sendiri juga) adalah Gaya Leg wave dengan motor yang sama lenturnya ditikungan (M1) akan membuang lebih banyak waktu (sepersekian detik) sementara Lorenzo terlihat begitu cepat melibasnya dimana dengan gaya “doubtless kneedown” nya akan singkat waktu buat tarik-ulur kaki dimana kaki ‘selalu Always’ pijak di foot step…
Terlepas dari yang sudah biasa melakukan Leg wave,  (terbiasa) dan otak akan memproses gaya ini secara reflek, namun masih tetap butuh waktu untuk proses tarik ulur bagian dari tubuh ini (kaki/leg) dibanding dengan lutut(dengkul/knee) yang lebih singkat….
Dengan asumsi performa kedua motor sama..dan Rossi adalah rider yang mudah beradaptasi akan gaya balapnya, apakah perlu punya kiat khusus hadapi Jo di seri-seri berikutnya…?
Bahkan demi mengimbangi kecepatan rider-rider muda saat ini konon Rossi harus mengubah gaya ridingnya atau bahkan meng-adaptasinya…!!

Boleh sependapat boleh juga menyanggah ..tidak dilarang dan gratis berpendapat… 😀

MotoGP™ Misano 2014 Lorenzo

 

Apakah Rossi harus “menyimpan” Leg Wave jika ingin mengejar Lorenzo saat dia berada dibelakangnya seperti di Catalan..?  Hanya Ban dan aspal yang tahu… 😀

Iklan
About oldrider (5007 Articles)
KeepBrotherhood & Peace

43 Comments on “Leg Wave” Valentino Rossi bikin Lamban dibanding “Confident Style” Jorge Lorenzo..???

  1. bantu ngerem… :mrgreen:

    Byson Fi yang semakin under power: http://wp.me/p1eQhG-1g4

  2. kalau mau ngejar jolor harus konsisten start di front row, balap se rapi jolor, start sebagus jolor, biar ngacir kaya jolor, tapi rosi ya rosi,

  3. cvnadagroup2017 // 20 Juni 2015 pukul 2:43 am // Balas

    amazing pos

  4. Menurut ane yang terpenting sih basis set up, banyak kok rider yang dapet pole position pake lah wave rossi. tapi ane pernah baca juga, kalo katanya leg wave bisa mempercepat untuk masuk tikungan se per sekian detik….hehehe cmiwww

  5. brigdade jalan raya // 20 Juni 2015 pukul 4:35 am // Balas

    iya T. praktis gaya lorenzo tentunya. tapi tipe balap kek rossi memang beda. jadi feeling terhadap traksi ban beda. lorenzo kuat sekali feeling nya dengan ban depan. jadi ga perlu banget rasakan traksi ban belakang secara berlebihan.

    kalo rossi feelingnya ga sekuat lorenzo soal ban depan. rossi mungkin 50 ban depan, 50 ban belakang. jadi settingan motor menyesuaikan feeling rossi (sasis boleh menambah feeling ban depan kata rossi, tapi rossi tetap ingin merasakan ban belakang), selain dibantu secara elektronik, dengan melebarkan kaki akan membuat ban belakang sliding sitik josss 😉 dengan merasakan slide sekian persen doi pede buat masuk tikungan dengan cepat (ya tetap saja cepatnya cepat lorenzo) artinya sudah gayanya ga praktis, speed di tikungan ga cepat banget 🙂

    gaya begitu cocok buat motor yang punya power gede (jadi lemah speed saat masuk tikungan bisa ditutupin saat keluar tikungan). contoh nyata saja lah. alien yang sudah jadi legenda (casey stoner), biar gaya itu dipakai oleh rossi tuk pertama kali di ajang motogpeh, tapi secara alamiah, gaya itu bawaan dari gaya riding supermoto, tapi diadaptasi lagi buat versi jalanan, cuman jadi ga praktis.

    • gaya sliding dikarenakan motor dengan tenaga liar… sedangkan dalam kasus ini Motor Jo & vale identik… sehingga dengan gaya yang beda akan menghasilkan speed berbeda juga, dan menurut saya gaya Rossi harus diubah dalam kasus rival terberatnya adalah Lorenzo dan M1…!
      Kecuali buat lawan lainnya tidak akan berefek lebih besar… karena terlihat Lorenzo begitu kencangnya saat ini…!!!

  6. krna rossi ketinggalan dr awal aja sih

  7. brigdade jalan raya // 20 Juni 2015 pukul 4:59 am // Balas

    ralat: tapi diadaptasi lagi buat versi jalanan yang real jalanan.

  8. brigdade jalan raya // 20 Juni 2015 pukul 5:32 am // Balas

    tapi kan elektronik T yang bikin ga liar. sejatinya M1 liar tanpa elektronik (di puncak speed tertentu), tapi ga seliar motor lain. sehingga M1 selalu baik di tikungan.

    nah, gimana neh tanggapan RT buat pernyataan dalam artikel di link berikut:

    //http://iotomotif.com/strategi-pengurangan-tenaga-m1-buat-jorge-lorenzo-tak-kompetitif-di-catalunya/28228

    Terlihat sekali jika Lorenzo sangat kewalahan dan tenaga Yamaha M1 andalannya pun tak sekencang biasanya.Rupanya Lorenzo bersama tim Movistar Yamaha MotoGP memutuskan untuk melakukan strategi pengurangan tenaga pada motornya.Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah kestabilan motor yang sempat dikeluhkan oleh Lorenzo di sesi latihan bebas sebelumnya. Dan ternyata strategi mengurangi tenaga yang disalurkan ke ban belakang M1 agar bagian belakang motor mudah dikendalikan dan tidak liarini menjadi bumerang bagi Lorenzo padasaat balapan berjalan.

    • “Liar” jika dikompare dengan inline silinder (previous machine) … karena motor 1000 cc pasti tenaganya seperti “badak” 😀
      Karena dalam balapan karakter mesin masing2 tim beragam…ketika mereka dalam satu aspal akan terlihat bedanya

  9. brigdade jalan raya // 20 Juni 2015 pukul 5:56 am // Balas

    tambahan soal elektronik motogp:

    kasus stoner, mengurasi level traksi oleh sistem elektronik agar bisa sliding. bayangkan saja jika stoner ga bisa sliding, ga cepat. nah ini mirip rossi sekarang 😉 level traksi diubah sitik 🙂

    terbalik dengan stoner, marquez ga suka sliding supaya bisa cepat. ya gaya balapnya beda ya T. lorenzo dan marquez memanfaatkan momentum/gaya sentrifugal dengan posisi badan lebih rebah. jadi ban belakang ga terlalu sliding, dan pede dengan traksi ban depan. hasilnya speed di tikungan sangat cepat.

    kalo stoner dan rossi bodynya ga serebah lorenzo/marquez, hasilnya biar cepat harus sliding. meskipun pada prinsipnya sliding sendiri menandakan speed jadi kurang cepat saat masuk tikungan. oh ternyata dengan motor powerfull, bisa ditutupi saat keluar tikungan.

    benar, M1 dengan regulasi BBM 20.liter saja bikon power M1 ga bisa diandalkan. kalo dipaksakan bisa ga stabil. sesuai ujar lorenzo kan 😉

    dengan paket M1 sekarang (pengereman.jozz full ssg sasis bagus buat feel ban depan), lorenzo bisa buktikan ga butuh power Ros, gue bisa kok.

    kalo rossi mah, ga bisa meningkatkan power lagi (ntar mogok kek tahun kemarin, untung sudah finish) 😉

    kalo mau sih rossi nunggu regulasi tajun depan biar lebih kompetetitif 🙂

    betul T, jadi rossi harus banyak belajar dari rekan setimnya.

    ref:

    masiwb mengisyaratkan stoner mengakali level traksi rcv //http://iwanbanaran.com/2012/09/25/valentino-rossi-vs-stoner-siapa-yang-pantas-dijuluki-raja-sliding/

    stoner benci elektronik. biar bisa sliding boy maka stoner pakai 20% saja, ujar mastaufik. //http://tmcblog.com/2012/06/08/sebagian-kontrol-traksi-rcv-212-1-stoner-ada-pada-riding-stylenya/

    *kalo M1 bisa dibuat liar sedikit (supaya bisa sliding) kenapa tidak, maksud rossi 🙂

  10. betul itu gan… kyaknya gaya itu sdh tdk sesuai dg gaya balap sekarang… utk bisa melawan JL maupun MM sklian

  11. brigdade jalan raya // 20 Juni 2015 pukul 5:57 am // Balas

    tuh T komentar ku satunya dimoderasi :mrgreen:

  12. brigdade jalan raya // 20 Juni 2015 pukul 6:18 am // Balas

    lagi seru yak :mrgreen:

    dari blog masfaiz

    //http://smartf41z.com/2014/08/10/salah-satu-resep-marquez-membatasi-technologi-agar-tambah-kencang/

    Tapi Marquez juga menanggung resiko lebih besar…, mengurangi peran kontrol traksi bikin pembalap bisa mengontrol roda belakang untuk mengoreksi arah dengan cara sliding (rear wheel steering) , resikonya kalau kebablas bisa celaka.

    kok makin ke sini jadi bahasan raja sliding 😆

    raja sliding sekarang: 1.stoner 2. rossi dan marquez

    rossi dan marquez biar suka sliding tapi slidingnya ga secepat stoner. haha melenceng dagh :mrgreen:

  13. tp kn ktika finis,gapnya bs trpankas walo gk signifikan,dri 1,7 menjadi 0,9

  14. maaf out of topic
    seneng bgt baca disini, yg komentarnya pinter2 & adem ayem, ngga rusuh kaya di blog lain

  15. kuncine.. Rossi kualifikasine kudu apik mbah.. Second row lah paling tidak
    http://motomazine.com/2015/06/20/valentino-rossi-aku-akan-menyambut-kembalinya-stoner/

  16. Motogp mania // 20 Juni 2015 pukul 12:24 pm // Balas

    Menurut ane, style balap itu sekunder aj (pelengkap) tapi yang paling penting (primer) adalah settingan motor. Meskipun style “seganas” Casey Stoner tp kalo motornya ga kompetitif sama aj bohong. Sebaliknya, meski style calm kyk Dani Pedrosa tapi motornya kenceng pasti menang juga. IMHO.

  17. ga tanya pada rumput yang bergoyang pak RT?

    Konsumsi bahan bakar yamaha gt125 ala goozir dot kom
    http://www.goozir.com/2015/06/konsumsi-bahan-bakar-yamaha-gt125-versi-goozir-com.html

  18. setiap kali rossi ditanya mengenai leg wave/leg dangle disaat mengerem masuk corner, rossi gk pernah jawab secara spesifik. rossi bilang ” it just feels natural to do”

    menurut pedrosa dan stoner, leg wave membantu men stabilkan motor waktu mengerem ke corner.

    dari hasil data motor antara rossi melakukan leg wave dan yang tdk, di corner yang sama. data menunjukkan waktu dan tekanan pengereman yg sama, juga distribusi berat yg sama. jdi tdk ada perbedaan terhadap motor yg dibuat dari efek leg wave itu. tapi rossi leg wave ini banyak pembalap yg melakukannya sekarang, terutama pada saat melakukan pengereman kuat yg memberikan tekanan besar pada ban depan.

    menurut Wilco Zeelenberg yg meng coach lorenzo. lorenzo bukan tipe late braking. dia mengerem sedikit lebih awal, dengan cara yg berbeda. jdi lorenzo tdk pernah masuk di corner dg kondisi motor bertumpu banyak pada ban depannya, akibat efek dari pengereman kuat. yg kadang membuat motor jadi tdk stabil. lorenzo membawa motornya sampai di corner sudah dlm situasi terkendali (under control), motor lebih stabil dan pada kecepatan yg pas/sesuai. dengan itu lorenzo dpt masuk corner dg halus (smooth).

    gaya ngerem rossi lebih pada brake late. mengenai pengaruh leg wave nya rossi di tikungan tdk beri efek, karena posisi kaki sdh tertekuk ke dalam mengikuti sudut kemiringan motor di corner. leg wave dilakukan pada saat pengereman sebelum motor miring masuk corner.

    kalau ditanya mana yg cepat? ….rossi pernah kalahkan lorenzo. jdi kesempatan pasti tetap ada sejauh rossi mampu mengobarkan nyalinya lagi seperti dia waktu dulu 🙂

  19. “Knee down” dan “leg wave” adalah body position yg berbeda peruntukan dan tempatnya.

    Knee down dilakukan semua pembalap ketika motor di low speed corner dan kadang di chicane.

    “leg wave” gaya rossi yg juga di adopsi oleh banyak pembalap, dilakukan ketika pembalap melakukan pengereman kuat (hard braking) pada saat mau masuk tikungan. yg katanya memberikan efek kepada kestabilan motor yg cenderung mengangkat ban belakangnya akibat ngerem dg tekanan lebih. posisi motor masih tegak atau kadang agak miring sedikit. jadi motor belum berada di corner.

    begitu motor masuk corner, sepatu boot si pembalap sdh kembali ke footpeg nya dan kemudian knee down menyentuh aspal, kalau bentuk tikungannya adalah low speed corner.

  20. di catalunya kemaren, mampu mendekati lorenzo dri belakang adalah usaha yg bagus oleh rossi. dimana pada lap-lap tersebut sdh membuat ban menipis banyak dan rossi mampu mendekat dg membuat gap yg kecil. malahan dg lap time yg lebih cepat 0.1 – 0.2 detik dari lorenzo.

    rossi sdh dibilang old lah, tpi masih mampu utk nekan kedepan. dan rossi pernah kalahkan lorenzo dg motor masih regulasi 800cc, dimana kecepatan di cornernya lebih tinggi dari motor 1000cc. jdi rossi punya kemampuan itu.

    • bisa jadi setelah mendapati Rossi tidak terlalu mepet dan belum mendapatkan roda belakangnya di 2 lap terakhir… Jo berfikir bukan merupakan ancaman… dan tidak mendorong mati2an buat podium 1…
      Dengan asumsi set-up keduanya beda… (infonya Rossi banyak perubahan)… artinya M1 Lorenzo saat itu masih diatas Rossi maybe

      • dari interview nya lorenzo setelah balap, justru dia kuatir krena rossi makin dekat. membuat lorenzo harus mem-push lgi lebih cepat…..tpi ya klau rossi bisa kalahkan lorenzo suatu prestasi lah, mengingat umur dan nyali :))

  21. ” leg wave” dan ” knee down” adalah tehnik balap yg berbeda peruntukan dan tempatnya.

    leg wave dilakukan pembalap pada saat penggereman kuat sebelum masuk tikungan. knee down adalah posisi dengkul si pembalap yg keluar mendekat/menyentuh ke aspal pada saat motor berada di tikungan. biasanya di slow corner.

    setelah leg wave motor miring masuk corner, sepatu boot pembalap kembali posisinya ke footpeg. dan pembalap melakukan knee down di dalam corner.

    maaf pk RT…klau komen nya dobel, krena yg sebelumnya gak masuk 🙂

    • disini bukan berarti dua gaya itu ‘setara’…namun secara total lap time kedua gaya tadi ada efeknya & berpengaruh… bukan diadu secara langsung… nah disitu pointnya… dengan menurunkan kaki dan tidak itulah yang jadi inti pembicaraannya… toh pada akhirnya Rossi melakukan knee down juga di titik yang sama… sedangkan Jo ‘minus’ julurin kakinya…. simple bukan 😀

      • lorenzo dg tehnik mengerem lebih awal. masuk ke corner dg kecepatan yg sudah sesuai/pas dg smooth dan stabil. kalau terlalu kenceng akan membuat motor cenderung lari keluar, melebar…. rossi dg tehnik brake late, mengerem kuat masuk corner. disini katanya diperlukan leg wave utk menstabilkan motor yg cenderung goyang dombret bagian belakangnya ketika menukik tajam akibat efek ngerem keras :))

  22. brigdade jalan raya // 20 Juni 2015 pukul 2:33 pm // Balas

    @arena sepeda motor: saya memang dengar engine 800cc cepat di tikungan (kek nya itu dibandingkan dengan kelas sebelumnya yang 990cc), sekarang katanya 1000-an cc, nungkin secepat 800cc atau lebih tapi stabil.

    saya masih ingat engine 800cc katanya top speed tinggi. terlihat dari ducatinya stoner dan ducati siapa tuh.

    jadi jika lap time sekarang lebih cepat, saya yakin karena kecepatan menikungnya lebih cepat dari era sebelumnya :-/

    coba masbro arena sepeda motor logikakan, momentum sentrifugal motor rider bisa bikin terpental/terseret di tikungan kalo terlalu cepat. dengan melihat body rider bersembunyi di antara tangki motor yang sedang miring, memberikan suatu indikasi kalo rider mau terpental, dan dengan begitu rider bisa membaca keseimbangan aerodinamika motor agar lebih cepat melesat.

    kalo era 800 cc M1 gaya ridingnya adalah gabungan 50% era gp500 dan era sekarang (body merebah). *bisa disaksikan di video youtube dan foto2.

    seperti prinsip, itu terjadi karena feel yang alamiah saja. jadi body rider merrbah menandakan speed motor sangat tinggi.

    saya jadi sanksi jikalau gaya body yang tidak merebah melibas tikungan dengan kecepatan max, ga terpental. paling ga bisa sliding sadis bin ekstrin tuh. kek foto kevin schwantz. //http://www.rgv.ru/img/diff/shwantz/ScrapingF1152.jpg

    hehe tapi saya kan berbicara tanpa data nih. asumsi doang. hasil analisa ala kadarnya. siapa tau masbro arena sedepa motor bisa memberikan penjelasan yang masuk akal.

  23. brigdade jalan raya // 20 Juni 2015 pukul 3:19 pm // Balas

    biar rame :mrgreen:

    @arena sepeda motor: bener juga soal knee down dan leg wave 2 hal yang beda. dan itu merupakan 1 kesatuan. soalnya lorenzo beberapa kali suka leg wave pas balapan hujan (sliding soalnya masbro).

    kesimpulan sementara paling kuat bahwa leg wave adalah bukti rider membaca potensi ban sliding.

    dan itu menandakan juga jika rider telah mempuanyai feeling kuat pada ban depan maka dia ga perlu leg wave.

    gimana T 🙂

    • tapi JL anti leg wave..dan itu sepertinya “disengaja”… takut plagiat katanya…kekekeke… 😀

    • @brigdade jalan raya . menurut di media beda cara masuk ke cornernya (approaching). yg suka leg wave cenderung brake late kemudian ngerem keras di pintu corner. ini membuat bag depan motor menukik tajam. makin keras makin tajam sudutnya (pitch)

      lorenzo tehnik pengeremannya gak brake late, melainkan mengerem lebih awal. jdi tdk membuat stress pada bag depan motor. atau sampai geol2 bagian belakangnya sperti marquez.

      yg paling jelas adalah pembalap honda, krena menurut crutchlow motor honda harus begitu cara pengeremannya. ngerem kuat, masuk tikungan dan akslerasi cepat keluar corner. dg itu honda memfokuskan pada horsepower dan torsi yg makin kuat. yg ternyata skrng menjdi titik masalah. engine brake yg berlebihan.

      tpi sy gak tau jga pak …apa iya bener begitu

  24. kok gk bahas elbow down idole sampean mbah? udh kadaluarsa kah? ngiahahaha… guyon mbah…

  25. wah saya gak ngerti jga pak @brigdade jalan raya

    katanya dulu regulasi motor 800cc dibuat krena speed motor 990cc terlalu kenceng.kmudian datang motor 800cc,yg ternyata corner speednya lebih cepat dari yg 990cc.

    pihak prinsipal,pembalap jga tim dll perduli dg keselamatan pembalap,dimana crash yg fatal terjadi pada medium maupun high speed corner. yg parah adalah motor highside.

    800cc pedrosa th 2009 di mugello mencapai 349 km/jam.ini karena 800cc bisa revving lebih tinggi rpm mesinnya.

    1000cc sekarang ini beda lap timenya memang lebih cepat dari 800cc. tahun 2011 di catalunya fastest lap stoner 1’43.084. Tahun 2015 catalunya kemarin, fastest lap marquez 1’42.219, 0.8 detik lebih cepat.

    Tapi kita pahami dimana 1000cc torsinya lebih besar. torsi besar membuat akselerasi keluar tikungannya akan lebih cepat. 800cc karena lebih ringan akan membuat pembalap lebih cepat entry cornernya dan speed di corner.

    korelasinya dg rossi, krena rossi pernah kalahkan lorenzo di era 800cc. sperti di catalunya 2009, rossi brake late ditikungan akhir kecepatan tinggi. yg kmudian berhasil overtake lorenzo, sampai duluan ke garis finish.

    mengenai badan rebah di tikungan tergantung dari bentuk cornernya pak. sering kita lihat posisi badan/bahu pembalap keluar jauh dari fairing motor (hanging off) ketika akselerasi keluar dari tikungan. dan posisi motornya sdh semakin tegak. badan pembalap jauh keluar untuk mengkompensasi efek sentrifugal waktu akselerasi keluar tikungan.

    karena semakin tegak motor semakin bagus grip ban ke aspal. dan semakin pembalap bisa membuka throttle lebih maksimum. semakin miring motor,semakin berkurang grip ban nya yg dapat membuat ban belakang slide. ada slide yg di rencanakan pas keluar corner. ada yg slide terjadi tdk direncanakan. yg gak direncanakan ini kadang bisa mengakibatkan motor jdi highside. melempar si pembalap dari motornya.

    pasti nya pembalap akan selalu meng kompensasi efek sentrifugal motor pd saat di corner. banyak sedikitnya posisi badan yg keluar dari fairing motor tergantung dari bentuk dan lebar cornernya. bentuk corner mempengaruhi sudut kemiringan motor. tdk semua corner sama. biasanya pada low speed corner dg radius pendek dan sedang, badan pembalap lebih keluar/rebah. sambil menjaga speed motor yg dicapai pada awal masuk corner. kemudian di pertengahan corner dan exit sdh kelihatan di depan, pembalap mulai menegakkan motornya dg cepat dibarengi dg membuka throttle kuat utk akselerasi . biasanya klau gaya pembalapnya suka slide, dia akan lakukan pas keluar tikungan.

  26. komengtator // 20 Juni 2015 pukul 5:07 pm // Balas

    iya teh uci, kalo ada yg berani buat onar di sini lsg di usir sama pak RT.wkwkwk

  27. brigdade jalan raya // 21 Juni 2015 pukul 5:31 am // Balas

    setuju dah dengan masbro arena sepeda motor.

    kek nya memang sasis mempengaruhi gaya riding pembalap. gp500 ke motogp terasa rider melakukan penyesuaian.

    dibantu kontrol traksi pembalap lebih safety dan pede melakukan hal yang ekstrim.

    800 cc lebih ringan jadi cepat di tikungan sampai saat ini, masuk akal juga. meskipun kontrol traksi jaman itu ga seperti sekarang. wajar saja era 800 diganti akibat membahayakan.

    posisi rebah benar tergantung elevasi tikungannya. dan benar posisi tegak ban itulah traksi yang bagus. saya baru baca dan nemu info dari pembalap nasional kita kalo liat di tv ga terasa tuh sudut kemiringan lintasannya. kita kira pembalap itu merebah di lintasan datar, padahal itu lintasan agak miring yang menukik ataupun yang menurun.

    betul tuh. maksudnya leg wave memang dipakai saat pembalap late braking. iya bro, dari dulu memang sudah terdeteksi gaya lorenzo anti late braking..kalo pun doi nampak late braking, itu karena ada rossi , atau ada marquez di sampingnya. makanya race line dan gayanya doi smooth sekali.

    walau motogp ga seru karena duelnya nyaris ga ada lagi, tapi menarik melihat perkembangan para pembalap dan tim mereka. setuju?

    kita lihat pembalap siapa yang jenius, yang hero selanjutnya, yang fenomenal selanjutnya, yang the doctor selanjutnya, dan tim mana yang memang pantas mendapat sanjungan atas teknologinya.

    • arena sepeda motor // 21 Juni 2015 pukul 2:53 pm // Balas

      iya masbro @brigdade jalan raya.. mungkin era gp500 daya cengkram ban nya tdk sekuat sekarang ini terutama bridgestone. tapi karakter mesin 2-tak 500cc memang beda, torsinya liar. kata rossi : ” motor gp500 itu dari dunia lain ” :))
      motor gp500 lebih ringan dg power besar. secara tehnis gp500 bisa lebih cepat di tikungan dari motogp 800cc kalau seandainya dilengkapi kontrol traksi canggih dan memakai ban bridgestone jaman sekarang.

      kata stoner motor 800cc kalah kenceng di lintasan lurus dg 1000cc. tapi dg motor 1000cc akan memberi efek, membuat feeling si pembalap nya menjadi lebih hati-hati (aware) dibanding dg membawa motor 800cc. pengaruhnya utk mencegah crash yg fatal dari kecepatan tinggi di corner. kalau kita lihat motor sedang miring ekstrim 64 derajat sampai elbow down. speed motor maksimum dibawah 100km/jam, low speed jdi relatif tdk begitu bahaya kalau glosor. yg resiko tinggi klau terjadi highside di medium atau high speed corner dimana kecepatan diatas 150-200 km. tapi kata rossi sekarang ini kontrol traksi sdh bisa mencegah terjadinya motor highside sampai 60%, sisanya tetap pada kendali si pembalap.

      mengenai balapan motogp sekarang, bagusnya ada persaingan. antara lorenzo dan marquez …mudah2an aja kedepan di setengah musim balap ada perlawanan lgi dari marquez

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: